Sabtu, 07 Mei 2011

Kesehatan Menurut Pandangan Agama Buddha

Kesehatan Menurut Pandangan Agama Buddha

A. Latar Belakang

Kehidupan yang beraneka ragam sifat maupun sikapnya dalam lingkungan masyarakatnya. Ada orang yang selalu kelihatan gembira dan bahagia walupun keadaan yang dihadapimya dan juga ada yang selalu mengeluh tidak cocok, tidak bersemangat dalam hidup karena kondisi yang tidak baik. Karena hidupnya dipenuhi dengan kegelisahan, kecemasan, dan ketidak puasan terhadap apa yang telah ia milliki saat ini sehimgga memudahkan mereka diserang berbagai macam penyakit yang sulit untuk ditemukan obatnya. Serta semakin berkembangnya ilmu-ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi demikian pula teknologi dibidang medis, populasi manusia di dunia yang semakin pesat yang juga komplek dengan masalah yang dihadapi salah satunya adalah kesehatan, yang mendorong para ilmuwan untuk meningkatkan kualitas keilmuan dibidang kedokteran. Namun terkadang para medis tidak mutlak dapat melenyapkan berbagai permasalahan kesehatan manusia tersebut.
Penyakit-penyakit tersebut disebabkan karena orang yang dalam hidupnya suka mengganggu, melanggar hak dan ketenangan orang lain, suka mengadu domba, memfitnah, menyeleweng, menganiaya, menipu dan sebagainya, hal ini yang menyebabkan kegelisahan pada masyarakat. Dengan penyebab tingkah laku orang yang berbeda, kendatipun kondisi sama. Usaha ini yang menumbuhkan satu cabang termuda dari ilmu jiwa yaitu kesehatan mental.
Kesehatan yang dialami seseorang maupun masyarakat itu sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Dengan lingkungan yang bersih maka kebersihan itu pula akan mempengaruhi kebersihan perorangan, kebiasaan hidup dan ini akan berdampak yang sangat baik bagi manusia dan lingkungannya serta dapat meningkatkan derajat kesehatan atau mencegah penyakit. “Kesehatan adalah keuntungan yang terbesar merasa puas adalah kekayaan yang berharga dipercaya adalah sanak keluarga yang terbaik,nibbana adalah kebahagiaan tetrtinggi” (Dhp. XV. 204). Kesehatan adalah anugrah yang paling tinggi yang perlu kita jaga guna kelangsungan aktifitas yang akan dijalankan, apabila kondisi tubuh tidak sehat, segala aktivitas yang akan dijalankan atau dikerjakan tidak akan berjalan dengan baik dan lancar.

B. Rumusan Masalah
Mendiskripsikan kesehatan menurut konsep dasar Agama Buddha

C. Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui konsep dasar kesehatan dalam Agama Buddha


BAB II
KESEHATAN MENURUT PANDANGAN AGAMA BUDDHA

A. Pengertian Kesehatan

Kesehatan merupakan harta yang sangat berharga yang dimiliki manusia. Konsep kesehatan itu sendiri adalah suatu keadaan dimana badan jasmani, mental lingkungan dan segala sesuatu yang ada disekitarnya benar-benar terjadi suatu keharmonisan
Dalam kehidupannya yang suka mengganggu kehidupan orang lain, suka adu domba, fitnah, menyeleweng, menipu dan sebagainya. Gejala tersebut merupakan unsur daripada kejiwaan yang tidak sehat, jiwa yang sehat akan menimbulkan jasmani yang sehat pula. Berarti sehat merupakan suatu bentuk konsep dasar yang mudah dirasakan dan diamati keadaannya. Misalnya orang yang tidak memiliki keluh kesah fisik dipandang orang yang sehat secara mental. Kesehatan merupakan suatu keadaan yang sehat, kebaikan keadaan (badan) jasmani, keadaan sehat badan (tubuh), jiwa keadaan sehat jiwa, masyarakat kesehatan jasmani bagi rakyat (KBBI, 2001.1011). menurut WHO (World Health Organization) kesehatan merupakan sutu bentuk yang sangat luas daan keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat atau dengan kata lain merupakan suatu keadaan ideal dari segi biologis, psikologis, dan sosial.

B. Konsep Dasar Kesehatan
Manusia mengenal dirinya pada mulanya dari dimensi biologisnya dan memanfaatkan anggota tubuhnya untuk memenuhi kebutuhannya, makan minum, bekerja dan aktivitas lainnya. Jadi tidak langka bila tubuh mengalami gangguan kesehatannya karena manusia belum merasa puas bila kebutuhannya belum tercukupi dan tidak pernah memperdulikan kesehatannya (terlalu bekerja keras, tidak ingat waktu).
Status kesehatan seseorang ataupun masyarakat sangat dipengaruhi oleh lingkungan, sekalipun tidak tetap tetapi juga tidak salah, kesehatan lingkungan sering diartikan sebagai kebersihan lingkungan. Kesehatan lingkungan seharusnya, mencakup pula kebersihan perorangan, kebiasaan hidup dan semua dampak hubungan timbal balik antara manusia dan lingkunan pertalian dengan peningkatan derajat kesehatan atau pencegahan penyakit. Lingkungan yang bersih adalah lingkungan yang sehat, jadi ini tergantung dari manusia atau masyarakat bagaimana menjaga lingkungan yang bersih.
Setiap individu memiliki peranan dalam kehidupan baik dalam keluarga, masyarakat, sekolah dan lainnya. Seseorang yang mempunyai jasmani dan mental yang sehat akan merasa puas dengan peranannya dalam lingkuangannya tersebut, tetapi sebaliknya bila seseorang tidak memiliki sehat jasmani dan mental yang kuat tidak merasa terpuaskan  dalam peranan-paranan tersebut, dan memang bila seseorang tidak memiliki badan jasmani dan mental yang kuat tidak bisa beraktifitas dengan baik.

C. Pendekatan  Kesehatan Menurut Agama Buddha
Manusia merupakan satu kesatuan dari unsur jasmani dan rohani, mengenai pemahaman yang benar terhadap tubuh yang rapuh yang merupakan sarang suatu penyakit yang justru akan mendorong agar manusia memperhatikan perawatan tubuhnya dengan baik. “Perhatikanlah tubuh yang indah ini, penuh penyakit, terdiri dari tulang belulang, lemah dan perlu banyak perawatan, keadaannya tidak kekal serta tidak tetap” (Dhp.XI.147). Perilaku yang bersih dan sehat akan menghasilkan lingkungan yang bersih dan sehat pula, begitu pula sebaliknya lingkungan yang bersih dan sehat akan mendorong prilaku yang bersih dan sehat pula, walaupun diri sendiri merupakan faktor utama dalam menciptakan keadaan yang sehat.
Salah satu hal yang sangat penting dalam pribadi seseorang adalah kesehatan mental, yaitu kondisi mental yang tidak sakit. Buddha Dhamma berperan besar dalam memecahkan kesulitan para ahli tentang kesehatan mental, Buddha menunjukkan bahwa setiap orang secara terus-menerus mendengarkan suatu suara dalam dirinya dan menafsirkan apa yang sedang dirasakannya. Tindakan ini merupakan tindakan untuk menenangkan diri terhadap prasangka, kegelisahan dan ketakutan. “Melenyapkan kegelisahan, dan kekawatiran maka akan terbebas dari perasaan tegang, dengan pikiran tenang, mensucikan batinnya dari kegelisahan dan kekawatiran. Ia melenyapkan keragu-raguan, ia hidup bagaikan orang yang telah bebas dari kekacauan batin dan batinnya berada dalam kebaikan, ia mensucikan batinnya dari keragu-raguan” (D.III.XIV.25).
“Sehat adalah anugrah tertinggi, Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi” (M.II.VII.65). Nibbana adalah tujuan tertinggi umat Buddha, sedangkan sakit, usia tua, kematian sebagia ciri dari penderitaan merupakan proses tak terelakkan yang penuh makna dan hikmah dalam perjalanan mencapai tujuan tertinggi. “Sungguh bahagia hidup tanpa penyakit diantar orang-orang yang berpenyakit, diantara orang-orang yang berpenyakit hidup tanpa penyakit” (Dhp.XV.198). Jadi dalam hal ini bisa dikatakan bahwa tujuan agama adalah sebuah keadaan kesehatan mental yang sempurna dan kebahagiaan sejati, tetapi selama manusia belum melenyapkan dukkha dalam dirinya mak kesakitan mental akan berada dalam dirinya bahkan dapat berkembang dengan cepat dan kedamaiaan Nibbana belum dapat dirasakan. Perlu diketahui bahwa tujuan dari Buddha mengajarkan Dhamma adalah untuk kebahagiaan umat manusia dan memperoleh mental yang benar-benar bebas dari penyakit apapun. Bhagava mengajarkan Dhamma agar Dharma dapat melenyapkan dukkha dari orang yang melaksanakannya (D.III.XIV.24). Dukkha merupakan kekacauan-kakacauan dan Nibbana adalah keadaan yang teratur dan sehat, tetapi umat Buddha adalah pengurangan serta pelenyapan dukkha dan mencapai Nibbana yaitu dengan pelaksanaan delapan jalan utama secara sempurna.            
Keseluruhan terapi Buddhis menjadi suatu pedoman yang disebut dengan jalan utama beruas delapan, yang merupakan terapi penolong dan terapi yang sebenarnya, terapi ini mencakup prilaku setiap hari dari disiplin mental serta pengenalan terhadap teori filsafat Buddha Dharma, terapi yang sebenarnya adalah adalah Meditasi (Dhyana) dalam terapi Buddhis dalam melenyapkan kekacuaan mental memiliki beberapa kesamaan seperti test wawancara dan diskusi, meditasi mirip dengan teknik terapi perilaku karena bagaimanapun terdapat beberapa aspek meditasi yang merupakan keunggulan dalam terapi Buddhis, hal yang penting dalam meditasi adalah perhatian, sempurna dalam perilaku, suci dalam cara hidup, sempurna dalam sila, terjaga pintu indriya, memiliki perhatian murni dan pengertian yang jelas. Terapi Buddhis mengatakan bahwa penyebab tubuh ini menjadi sakit dan sehat adalah karena adanya  melalui perasaan jasmani (rasa sakit) dan keadaan pikiran (emosi-emosi) yang mempengaruhinya. Dengan begitu apabila tubuh ini ingin tetap sehat hendaknya menyadari segala bentuk-bentuk pikiran emosi-emosi yang timbul dalam diri. Yang dimaksud dengan bentuk pikiran yang menyebabkan penderitaan karena mempunyai beberapa hal yaitu : (1). Keserakahan, (2). Harga diri yang terluka, (3). Iri hati, (4).  Kebencian, (5). Kekuatiran (Ruth Walshe, alih bahasa Upi. Ksantidewi, Terapi secara Buddhis).    

D. Pengaruh Perkembangan Ilmu Kedokteran Terhadap Pola Hidup Manusia
Kehidupan yang semakin maju baik dalam ilmu teknologi maupun kedokteran yang semakin maju pesat  terdapat atau mempunyai pengaruh yang dapat mengembangkan pola hidup manusia yaitu :
-          Untuk meningkatkan pelayananan kesehatan terhadap masyarakat dibidang kesehatan, meningkatkan mutu pemeriksaan yang terjamin terhadap penyakit-penyakit yang diderita, sehingga terbukti dan dapat dipertanggungjawabkan hasil pemeriksaannya.
-          Dengan banyaknya peralatan dan fasilitas yang digunakan maka kana meningkatkan pula mutu dari tenaga medis (Fahrul Rasyid, Tempo Tahun 1990:76, Murniyati, Rangkuman Agama Buddha Dan Disiplin Ilmu I dan II 2003)
-          Semakin banyaknya peneliltian –penelitian media yang dilakukan secar intensif maka akan mendorong didirikannya laboraqtorium kesehatan dengan peralatan dan fasilitas yand lebih lengkap
-          Perkembangan ilmu kedokteran dapat meningkatkan mutu mansia secara fisik (ilmu bedah dapat membantu manusia menutupi cacat fisik yang ada pada dirinya) (Medika, 1992:59, Murniyati, Rangkuman Agama Buddha Dan Disipllin Ilmu I dan II 2003)


BAB III

PENUTUP

Simpulan
Kesehatan merupakan suatu keadaan dimana badan jasmani, mental lingkungan dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya benar-benar terjadi suatu keharmonisan .Kesehatan sangat diperlukan oleh manusia, karena dengan adanya kesehatan manusia bisa bekerja untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Sang Buddha memberikan jalan untuk menjaga kesehatan dengan jalan melenyapkan semua rasa kekuatiran yang ada dalam diri kita, dan tidak melekati sesuatu yang disenangi.Disamping itu seseorang harus melaksanakan sila karena dengan melaksanakan sila seseorang akan terbebas dari kekuatiran tersebut. Keserakahan, harga diri yang terluka, iri hati, kebecian, kekuatiran. Kelima hal tersebut yang paling menyebabkan penderitaan yang sangat mendalam adalah kekuatiran, mengapa kekuatiran dikatakan hal yang paling utama dan sangat berbahaya karena hal ini timbul dari perasaan yang tidak nyaman, yang merupakan sebab awal itu adalah kemelekatan, seperti apa yang terdapat dalam Empat Kesunyataan menyatakan bahwa Asal mula penderitaan adalah keinginan (Ruth Walshe, alih bahasa Upi. Ksantidewi, Terapi secara Buddhis).
Keasadaran dan ketidakmelekatan adalah obat yang sangat mujarab dalam Agama Buddha dari kemelekatan dan kekuatiran. Dalam menyadari kekuatiran itu ada dua tingkatan yaitu: (1). Ketika kekuatiran tertentu menjadi kekuatiran yang sungguh-sungguh, (2). Ketika kekuatiran itu lenyap sama sekali pada saat itu. Dengan adanya suatu kesadaran yang penuh maka suatu penyakit tidak akan muncul dalam diri manusia.
 Marilah kita renungkan bersama bahwa dengan sikap menerima yang benar terhadap  penderitaan adalah merupakan satu-satunya jalan atau cara penyembuhan. Mengapa demikian karena apabila penderitaan selalu ditekan hanya akan mendorong suatu kemelekata itu ke bawah sadar yang menimbun atau menyimpan barang-barang yang tidak menyenangkan atau yang tidak ingin dilihat, yang suatu saat akan muncul dan menimbulkan suatu penderitaan. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa hanya tindakan penerimalah yang menyembuhkan penderitaan, menghentikan penderitaan dan juga sang aku juga tidak terlibat. Jika sang aku tidak terlibat, maka keinginanpun tidak ada. Dengan berhentinya penderitaan maka energi yang digunakan untuk membuat sang aku yang menyebabkan penderitaan tidak digunakan lagi. Maka kemelekatan akan hilang yang dapat menyembuhkan dari ketegangan-ketegangan yang ada serta menjadikan tubuh jasmani serta mental dapat terbebas dari penyakit.     

Saran
Semoga dengan makalah ini dapat memberikan suatu gambaran kepada para pembaca tentang bagaimana cara menjaga kesehatan,dan kami sangat mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan makalah ini. Sehingga dapat berguna bagi para pembaca agar dapat menambah pengetahuan dan wawasan yang luas serta dapat juga berguna bagi kami selaku penulis makalah ini walaupun kami menyadari bahwa makalah ini kurang dari sempurna karena kami hanyalah manusia biasa yang masih dalam tahap belajar. Terima kasih atas saran dan kritik yang sifatnya membangun yang nantinya kami jadikan pegangan dalam penulisan makalah yang berikutnya sehingga menjadi lebih baik dan dapat lebih mudah dipahami oleh semua pembaca. 

DAFTAR PUSTAKA


Daradjat Zakiah. 1989. Kesehatan Mental. Jakarta: CV Haji Mas Agung.
Notosoedirjo Moeljono. 2001. Kesehatan Mental Konsep Dan Penerapannya. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.
Sasanadhaja Pandita, Widya Surya. 2001. Dhammapada. Jakarta: Yayasan Abdi Dhamma Indonesia.
Tim Penyusun. 2003. Pengetahuan Dharma. Jakarta: CV. Dewi Kayana Abadi
Wijaya Mukti Krisnananda. 2003.  Berebut Kerja Berebut Surga. Jakarta:  Yayasan Dharma Pembangunan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar